Mind

Kalau…

Kalau langit bisa berucap, tak akan ada rahasia di bumi. Ia akan mengisahkan segala yang terjadi, terus menerus. Manusia tak akan punya waktu untuk tidak tahu. Luasnya langit menggambarkan bagaimana keagungan penciptanya.

Kalau hujan bisa tertawa, maka makna konotasi tentangnya akan berubah. Ia selalu diidentikkan dengan suasana sedih dan sendu. Tidak kah kamu pernah berpikir, bagaimana jika hujan itu adalah simbol kebahagiaan? Bukankah kehadirannya adalah sebuah rahmat dan kebangkitan dari bumi yang kering?

Kalau bunga bisa tersenyum, maka seluruh dunia pun bahagia. Ia yang indah meski tak memiliki bibir untuk tersenyum akan selalu menebarkan cinta dan kehangatan. Menjadi sejumput keindahan surga yang bisa dinikmati dunia. Keindahannya begitu dicintai setiap makhluk, begitu juga bagi Zat yang Menyukai Keindahan.

Tapi itu semua hanya kalau. Semuanya yang diciptakan saat itu telah bekerja pada takarannya. Tidak berlebih tidak pula kurang. Meski terkadang manusia yang sering banyak mencela dan mengeluh ini kurang bersyukur. Padahal nikmatnya bersyukur akan membawa pada rasa bahagia. 

Bilal bin Rabbah, tidak pernah mengeluh ketika ia selalu disiksa oleh majikannya akibat lisan dan hatinya yang selalu menyeru tauhid.

Keluarga Yasir pun tak kalah pilu dengan siksaan hingga Yasir bin Amir dan Sumayyah, istrinya, syahid di tangan siksaan Abu Jahal sedang putranya yang salih Ammar bin Yasir terus memperjuangkan islam di sisi Rasulullah. 

Khabbab bin Arat, juga tidak lelah disiksa sambil mempelajari Al Quran, hingga suatu hari ia lah yang mengantarkan sahabat Rasul yang Agung, Umar bin Khattab, memeluk islam ketika sedang mengajari Fatimah binti Khattab dan suaminya, Said bin Zaid, membaca Quran

Apa yang kita alami sekarang tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan Rasul dan para sahabatnya dahulu. Kata ‘Kalau’ yang terlalu sering tersemat dalam ucapan tak akan mengubah apapun selain memperbesar penyesalan. Rasul dan sahabatnya tidak pernah tenggelam dalam perandaian, tapi mereka menghadapi apa yang ada di depan. Landasan Iman yang kuat akan segala ketetapan Allah, membuat diri jadi semakin mantap di jalan Nya. 

Aku pun harus begitu, dengan beban yang lebih ringan, seharusnya bisa berbuat lebih banyak. Terlalu banyak mengeluh hanya akan mengurangi keikhlasan dan rasa syukur. Kadang senyum memang harus dipaksakan tersungging, bukan pada orang lain, melainkan pada diri sendiri. Tersenyum akan membantu melapangkan hati yang sempit, setidaknya dengan begitu perasaan tidak melulu risau akan beban. Jika perlu menangis maka tangisilah dulu, mungkin jalan air mata adalah kelegaan dalam hati yang akan memunculkan keyakinan pada setiap pertolongan-Nya. Percayalah pada takdir Sang Penggenggam Seluruh Jiwa yang Hidup, Ia akan selalu di sisi hamba-Nya yang bertakwa. 

Advertisements

One thought on “Kalau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s